Ketua Yayasan UNIBA: Yang Utak-atik Pancasila Adalah Generasi Keblinger dan Pengkhianat

Rendy Susiswo Ismail, S.E., S.H., M.H.

Penolakan Rencana Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila yang digelontorkan anggota DPR-RI mulai terdengar keras gaungnya dikota Balikpapan.

Baik unsur Organisasi Masyarakat hingga tokoh-tokoh intelektual kota Balikpapan ikut menolak sekaligus mengkritisi langkah kontroversial tersebut.

Munculnya upaya otak-atik ideologi Bangsa yang sudah disepakati oleh para pendiri bangsa Indonesia juga menuai kritik dari Ketua Yayasan Universitas Balikpapan, Rendy Susiswo Ismail. Ia mengatakan, tidak perlu lagi membahas tentang ideologi Pancasila karena sudah final "Kita yang sudah 75 tahun merdeka masih mempersoalkan ideologi negara yang rumusannya yang jelas itu, masih ada dikait-kaitkan dengan yang 1 juni, ada tadi yang kemudian Pancasila piagam jakarta, nggak ada itu, itu bagian dari sejarah masa lalu" jelasnya.

Ia juga mengkritisi generasi-generasi sekarang yang dianggap sesat dan keliru memahami Pancasila "Kita ini kan penerus, jadi kalau ada generasi sekarang, pelanjut, penerus, apalagi generasi milenial masih juga mengutak-utik persoalan ideologi kita, dasar negara kita Pancasila yang rumusannya seperti yang diputuskan, disampaikan pada tanggal 18 Agustus 1945, ini generasi apa ini, generasi keblinger begitu ya, nggak tahu sejarah dan tidak menghormati tokoh sebelum" kritiknya.

Termasuk upaya untuk merubah isi dari Pancasila, Rendy menjelaskan adalah bentuk pengkhianatan kepada pendiri bangsa "Siapapun dia yang mengutak-atik kesepakatan dasar negara Pancasila yang rumusannya yang telah ditetapkan pada tanggal 18 Agustus itu telah mengkhianati konsensus nasional yang diambil oleh para pendiri bangsa, termasuk yang merubah".

Kondisi dan suasana kota Balikpapan hingga hari Senin (29/6) masih dalam situasi tanpa pengerahan demonstrasi seperti di ibukota, namun dimedia sosial sudah berhembus kabar dan komentar akan digelarnya demonstrasi dari Ormas dan organisasi Islam, namun belum disepakati waktu dan tempatnya.

Dari pantauan Redaksi Khazanah Online, setidaknya pada hari Ahad (28/6) telah berlangsung pertemuan terbatas lintas organisasi, bersama-sama menolak pembahasan RUU HIP dilanjutkan kembali.

Selain itu, menurut Rendy Ismail suasana yang ditimbulkan ditengah masyarakat, akibat memanasnya pembahasan RUU HIP tersebut, memunculkan respon kurang baik bagi persatuan bangsa "Akhirnya diskusi yang berkembang ditengah masyarakat yang seperti sekarang ini, ini potensi untuk membelah bangsa ini lho, kita set-back kembali ke era sebelum 18 Agustus. Kalau kemudian dinamika yg ada itu konstruktif, mungkin tidak ada masalah , tapi perosalannya kan sudah mengarah kepada gerakan-gerakan politik yang ini sangat membahayakan, sebagai anak bangsa saya sangat khawatir, kalau generasi sekarang masih diseret-seret mendiskusikan sesuatu yang sebenarnya sudah final bagi bangsa ini, bagi negara ini, ini kalo kita mau tetap tegak berdiri" ujarnya kepada Khazanah Online.

Kekhawatiran beliau akan terjadi perpecahan bangsa tersebut dikatakan bernuansa politis "Ada kekuatan politik tertentu, ada kelompok tertentu yang tidak nyaman dengan rumusan pancasila yang ditetapkan pada tanggal 18 agustus 1945 ini. Yang kemudian (era) reformasi dia manfaatkan untuk merubah sila-sila itu. Ini kan aneh" imbuhnya.

Menanggapi partai politik yang awalnya menyetujui pembahasan RUU HIP walau belakangan balik-badan dan mencabut dukungannya, Rendy berkomentar "Goblok ini oknum-oknum yang sekarang jadi pimpinan di MPR, masih maunya dipengaruhi oleh DPR itu, jelas-jelas mau mendiskusikan, membahas secara prinsip, itu sudah final" pungkasnya.

KONTRIBUTOR: Andrian
EDITOR: Syahrani