Dari Balikpapan Menuju Monas: Sebuah Catatan Pengalaman Aksi Damai Bela Islam 3

Setelah peristiwa pencekalan saudara Rahmat di Bandar udara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan (SAMS) Balikpapan, menyisakan masalah tersendiri bagi masyarakat Balikpapan. Berbagai elemen Organisasi kepemudaan dan Kemahasiswaan dikabarkan melakukan manuver tuntutan hukum. Salah satunya Pemuda Muhammadiyah Balikpapan melalui website resminya www.pdpmbalikpapan.or.id mempublikasikan Press Release menuntut penegakan keadilan kasus diatas.

Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Balikpapan tidak tinggal diam, diwakili langsung oleh Ketuanya Achmad Ramdhoni dengan tegas memberikan statement kritis dikoran Balikpapan Pos edisi Ahad 4 Desember 2016: "KAMMI dan para Pemuda tidak bisa tinggal diam menikmati kebohongan dirumah sendiri".


Dari kasus Rahmat tersebut, ternyata tidak membuat surut semangat warga Balikpapan untuk berangkat ke Jakarta. Dari pantauan tim investigasi Khazanah, penerbangan terakhir ke Jakarta hari Jumat, 2 Desember 2016 yang lepas landas pukul 06.00 Wita dini hari, hampir seluruh penumpangnya ternyata peserta aksi bela islam 2 desember. Nampak jelas dari penampilan fisik dan pakaian mereka, topik obrolan juga hampir sama "menghadiri aksi 212 di Jakarta". 

Beberapa orang yang saya tanyakan tapi tidak ingin dikutip namanya karena masalah keamanan, keberangkatan mereka murni panggilan hati membela Al-Qur’an, memakai dana sendiri, dan menganggap aksi 2 desember nanti akan menjadi bagian dari sejarah umat islam di Indonesia.

Hanya loket check-in tiket penerbangan Lion Air JT0763 yang sepertinya dijaga ketat security, penampilan mereka berbadan tegap, tinggi dan kekar. Sedang serius berkomunikasi dengan petugas loket, ada yang memberikan secarik kertas berisi nama dan kode booking tiket ke petugas loket, sempat saya melirik isi kertasnya dan terlihat samar-samar tulisan tangannya mirip nama saya. Apakah saya masuk daftar pencekalan juga? Karena sebelum pengumuman aksi 2 desember, dua orang yang mengaku dari kepolisian sektor Utara Balikpapan pernah menanyakan kepada saya perihal peserta yang berangkat ke Jakarta, tidak lupa nama dan nomor ponsel saya mereka minta.

Antrian loket tersebut memang paling ramai hingga petugas harus membuka 4 loket sekaligus, masing-masing dijaga security. Khawatir akan terjadi lagi penangkapan, saya mengantri paling belakang sambil duduk santai diruang tunggu dengan kamera sedang merekam, hanya ingin melihat apakah semua penumpang lolos, atau hanya saya yang ditahan. Tidak sedikit penumpang penerbangan ini berpenampilan layaknya peserta aksi 212.

Dalam kondisi sangat tegang tersebut, apalagi membaca pengakuan saudara Rahmat kepada salah satu wartawan Khazanah melalui chat facebook, beliau mengungkapkan penangkapan terhadap dirinya yang dilakukan oknum kepolisian dibandara berlangsung sangat kasar. Hingga harus dipiting sedemikian rupa dari belakang dan dimasukkan paksa kedalam kendaraan kepolisian.

Tiba giliran saya check-in karena penumpang sudah berkurang, dan saat petugas loket mencocokkan nama KTP dan tiket online yang saya berikan, dahinya berkerut sambil mencocokkan nama dikertas yang diberikan petugas keamanan tadi. Nama memang mirip, nomor ponsel saja yang berbeda karena saya mendaftar tiket online menggunakan nomor ponsel sekali pakai buang khusus untuk paket data internet. Petugas loket sepertinya berada dipihak saya, mungkin juga dipihak peserta aksi damai 2 desember Jakarta. Dihadapan saya petugas tersebut -atas alasan keamanan tidak kami sebutkan namanya-  ia mendecakkan lidahnya sepeti cuek dengan daftar nama tersebut lalu sesegera mungkin menyelesaikan proses check-in. Seluruh penumpang JT0763 lolos tidak ada yang tertahan termasuk saya.

Dikabin pesawat para penumpang terlihat senyum sumringah melihat saya, mungkin mereka kenal karena pernah meliput aksi 411 dilapangan merdeka Balikpapan bulan lalu, dan sekarang ditugaskan meliput aksi 212. Yang jelas dari pantauan saya hanya ada 2 kursi kosong yang posisinya paling belakang, sedangkan kursi bagian tengah dan depan terisi penuh, artinya tidak ada yang tertinggal dipenerbangan ini. Hiruk-pikuk penumpang mulai pecah ketika pesawat sudah lepas landas, mungkin merasa sangat lega karena niat mereka tidak terhalangi lagi menuju Monas Jakarta.

Saya tiba di Jakarta tanpa keterlambatan waktu, namun saat menuju ke Monaslah tantangan itu dimulai. Perusahaan kendaraan online seperti Grab, Uber, Gojek semua menolak mengantarkan saya ke Monas. 10 penolakan saya terima dari Gojek, 5 dari Grab dan 5 juga dari Uber. Taksi Bandar udara juga menolak pesanan saya dengan tujuan sekitar bundaran HI dan Monas, tidak ada yang mau menerima.

Terlambat hampir satu jam mencari kendaraan, saya buka kembali aplikasi Gojek memesan tumpangan dan kali ini diterima, driver Gojek yang sudah tua bernama bapak Kananto ternyata memang berniat melihat aksi damai 212 tersebut, beliau mengaku menjadi salah satu anggota FPI Jakarta Pusat tapi tidak sempat mengikuti aksi tersebut karena sedang mencari nafkah dengan Gojek. Saya bertanya soal kenapa driver-driver ojek online menolak mengantar penumpang ke Monas, apakah ada aksi serupa memboikot peserta yang menuju kesana seperti yang terjadi dibeberapa mobil dan bus charteran. Pak Kananto menjelaskan, para sopir tersebut cuma tidak mau berdesak-desakan dengan macetnya lalu lintas disekitar bundaran HI dan Monas.


Benar saja kata bapak Gojek tadi, dari Jalan KS. Tubun Raya menuju Monas sudah dipadati longmarch dan konvoi kendaraan peserta Aksi. Macet sepanjang jalan tapi dalam atmosfir yang penuh senyum dan tawa, sesekali peserta melantunkan sholawat dan takbir.

Memasuki Jalan Jati Baru Raya kepadatan long march mulai mencapai titik maksimalnya, kendaraanpun dilarang lewat. Sekitar pukul 9.45 Wib seluruh peserta yang baru datang dialihkan ke jalan Abdul Muis dan Budi Kemuliaan, sedangkan jalan Kebon Sirih dibiarkan lengang oleh aparat, kemungkinan karena banyaknya kantor-kantor vital di sekitarnya. Saya terpaksa melewati jalan Kebon Sirih karena lebih lengang daripada jalan Abdul Muis, target saya adalah Tugu Patung Kuda. Sesekali saya melihat beberapa peserta membawa satu kresek besar berisi makanan dan minuman, sudah pasti hasil pembagian panitia dan para donatur aksi disana, perut mulai keroncongan karena sedari Balikpapan belum terisi. Beruntung ada peserta yang membagikan minuman teh kemasan gratis, setidaknya ada sedikit energi untuk melanjutkan peliputan.


Memasuki jalan MH. Thamrin hingga Patung Kuda Arjuna Wiwaha seluruh area dipadati para peserta yang sudah duduk rapi bershaf-shaf di badan jalan, trotoar, hingga di jembatan penyebrangan. Disetiap sudut jalan beberapa mobil logistik sibuk membagikan makanan dari berbagai jenis dan merk terutama roti, dan nasi bungkus. Air kemasan bisa didapatkan dengan sangat mudah disebarkan disetiap sudut jalan bisa juga digunakan untuk berwudhu dengan gratis.


Lautan manusia berseragam putih benar-benar memenuhi seluruh ruas jalan, dari atas jembatan penyebrangan tidak terlihat ujung massa berpakaian putih ini. Walau padat tapi saya bisa melintas dengan sedikit berdesak-desakan, wajah peserta pun terlihat santai dan nyaman ketika saya melintas dihadapan sajadah mereka, hanya cukup menyentuh bahu peserta yang duduk berzikir sambil meminta izin “permisi” bundaran HI bisa saya kelilingi sambil mengambil dokumentasi foto dan video. Wartawan lain juga bebas menyebrang kesana-kemari untuk meliput, tidak ada yang dihalang-halangi ataupun dicaci maki, mungkin karena mereka bukan dari Metro TV dan Kompas.



Sesekali hujan gerimis seperti hanya numpang lewat, sangat jarang cuaca disekitar aksi berubah panas terik. Tapi cuaca berubah hujan tanpa henti ketika Presiden Jokowi memasuki lokasi acara, hujannya tidak terlalu deras tapi durasinya hingga selesai aksi. Saya yang posisinya disebelah kiri Patung Kuda ikut berbasah-kuyup karena tidak membawa jas hujan.

Seorang warga asli Jakarta disebelah saya mengajak ngobrol dengan logat betawinya, namanya juga kebetulan Rahmat, sama seperti nama rekan yang tertangkap aparat kepolisian Balikpapan beberapa hari lalu, ia mengatakan: “saya disini sejak jam 7 pagi mas, tapi tetap merasa nyaman nggak pegal-pegal juga” padahal waktu sudah pukul 11.45 siang waktu Jakarta, 4 jam 45 menit beliau duduk ditempat yang sama dan tetap semangat. Saya tanyakan kenapa tidak berkumpul di Monas saja? Ia menjawab: “Nggak bisa mas, sudah penuh, kalau mau ngumpul disana harus datang subuh-subuh”. Saya menggeleng-gelengkan kepala sambil permisi meminta air minum kemasan yang ada disampingnya.


Genangan air di sisi badan jalan sudah mulai meninggi, sebagian jalan ada yang terendam hingga setinggi 10cm, dan para peserta termasuk saya harus sholat jumat dalam kondisi tersebut. Kami sibuk mengamankan barang-barang elektronik termasuk kamera dan ponsel yang hanya dibungkus kantong kresek hitam dan dimasukkan kedalam ransel tanpa pelindung hujan. Suasana khusyu terasa sangat menyentuh tatkala sang Imam Sholat Jumat membacakan doa qunut yang sebenar-benarnya doa qunut, sepanjang doa qunut yang pernah dilakukan dan diucapkan Rasulullah SAW.

Selesai sholat Jumat, peserta di sekitar saya membubarkan diri secara teratur tidak memperdulikan sambutan Presiden Jokowi. Sambil mengucapkan takbir dan sholawat, peserta berjalan menjauh dari Monas dan Bundaran HI. Disepanjang jalan Medan Merdeka Selatan beberapa dermawan membagikan nasi bungkus gratis, tidak ketinggalan roti, kurma, permen, dan air kemasan semua dibagikan gratis. Saya yang memang dari Balikpapan belum makan, ikut mecicipi nasi padang di trotoar jalan dengan kondisi cuaca masih gerimis.

Tantangan selanjutnya ada di depan arah timur jalan Medan Merdeka, memasuki persimpangan jalan M.I. Ridwan Rais peserta yang jumlahnya jutaan orang terpaksa berdesakan dengan himpitan kendaraan peserta lain yang parkir, saya menghitung padatnya massa di daerah tersebut yang hanya mampu melangkah 7 kali langkah kecil dan berhenti 5 detik lalu melangkah kecil lagi 7 kali dan berhenti 5 detik, seperti itu kondisi kepadatannya hingga ke Tugu Tani, hanya bisa melangkah kecil, mungkin seperti inilah rasanya sedang berhaji di makkah, berada ditengah kerumunan jutaan orang dengan jalur jalan yang sempit. Nafas terasa berat karena berada dikerumunan massa, sedangkan gerimis hujan masih turun seperti sedang mendinginkan kepala peserta agar tetap tenang dan tidak emosi. Didepan Tugu Tani terlihat Serikat Buruh masih melakukan demonstrasi, peserta Aksi 212 terpaksa memotong barisan Serikat Buruh karena sebagian besar tujuannya ke jalan Menteng , termasuk saya.


Di Menteng kondisi sudah terasa agak lega, namun gerimis dan genangan air beserta sampah menjadi pemandangan nyata di sepanjang jalan. Terlihat beberapa orang sibuk mengumpulkan sampah dari yang besar sampai potongan-potongan kecil kertas kardus yang sudah menjadi bubur. Sesekali ia berorasi dengan logat melayu khas Aceh: "saya datang dari jauh pak naik pesawat selama 2 jam setengah hanya untuk mengumpulkan sampah disini, tujuannya agar umat islam yang ikut aksi damai ini tidak dituduh buang sampah sembarangan". Ia juga punya yel-yel sendiri: "Buanglah sampah pada tempatnya dan buanglah Ahox dipenjara" tawa lepas pun pecah dikerumunan massa tawaf ala-ala Jakarta.

Sepanjang jalan saya lewati dengan kaki telanjang karena sepatu dan kaos kaki saya basah kuyup tergenang air hujan, berjalan kaki dari Patung Kuda hingga ke Menteng tanpa alas kaki. Teringat kali terakhir saya mengelilingi pulau Nunukan Provinsi Kalimantan Utara dengan kondisi yang sama, sekitar 25 kilometer berjalan kaki menaiki bukit menyebrang sungai masuk hutan keluar kebun dengan kaki telanjang.

Sesampai di Menteng saya singgah istrahat sejenak disalah satu masjid bersama peserta lain, mencoba mengatur nafas dan memijat kaki yang letihnya bukan main. Sesekali datang minuman, makanan dan cemilan gratis dari peserta lain, terlihat juga teman-teman saya dari Kalimantan Utara ikut dalam aksi tersebut duduk istrahat kelelahan tapi merasa senang dan lega telah menjadi bagian dari titik kecil sejarah umat Islam Indonesia dalam Aksi yang Damai dan Tertib sepanjang sejarah.

Diperkirakan setidaknya 5 juta peserta yang hadir dalam Aksi Damai jilid 3 tersebut. Berjalan dengan sangat baik tanpa terjadi kekerasan sedikitpun, baik peserta maupun panitia mencontohkan akhlak yang terpuji. Walau sesaknya akses pergi dan pulang, sesesak tawaf, wukuf dan sa'i, emosi peserta benar-benar terdinginkan dari hujan gerimis anugerah dari Sang Pencipta Allah SWT.

Reporter: Syahrani
Editor: Masdiana