Diabetes Ditengah Pandemi Covid-19


Diabetes dan Covid-19 (Foto: medscape.com

Diabetes Melitus (DM) atau lebih dikenal dengan istilah kencing manis adalah kumpulan gejala yang terjadi akibat meningkatnya kadar glukosa (gula) darah secara berlebihan dalam tubuh.  Jika dibiarkan berkepanjangan, glukosa darah yang tinggi dapat menimbulkan sejumlah komplikasi yang berbahaya. Sampai saat ini, secara medis, DM adalah kondisi yang belum dapat disembuhkan sehingga penting bagi kita untuk mengetahui apa yang menjadi penyebabnya dan bagaimana cara untuk mencegah supaya kita tidak menjadi penyandang diabetes mellitus.

Terdapat beberapa tipe diabetes melitus, tetapi yang terbanyak adalah DM tipe 2. DM tipe 2 biasanya muncul pada usia dewasa. Pada DM tipe 2, kadar glukosa yang meningkat berlebihan disebabkan oleh menurunnya fungsi sel pankreas dan resistensi insulin. DM 2 terjadi akibat kombinasi faktor genetik (keturunan) dan gaya hidup. Pola hidup tidak sehat dan kegemukan diduga sebagai penyebab utama terjadinya DM tipe 2 pada mereka yang secara genetik memiliki kecenderungan untuk menderita kondisi ini.

ilustrasi K-Link.co.id
Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mencegah diabetes:
Konsumsi makanan yang tepat.
Pola makan dan minum sehat adalah kunci utama agar kita terhindar dari diabetes. Penting untuk kita ingat, yang terutama adalah nutrisi seimbang. Tidak ada zat makanan tertentu yang paling baik nilai gizinya sehingga makanan kita harus bervariasi dan memenuhi aturan 4 sehat. Selain itu, jadwal makan yang teratur juga penting demi terkontrolnya kadar gula darah kita. Karbohidrat merupakan bahan makanan yang menyebabkan kadar glukosa darah menjadi tinggi bila dikonsumsi secara berlebihan. Karbohidrat banyak terdapat pada nasi, umbi, tepung, dan juga makanan /minuman manis yang mengandung gula. Bukan berarti kita harus menghindari karbohidrat, tetapi konsumsi secukupnya saja. Perbanyak konsumsi sayuran, buah, kacang, dan biji-bijian yang mengandung banyak serat dan karbohidrat kompleks. Hindari juga minuman bersoda dan jus buah kemasan, perbanyak minum air putih.

Olahraga
Olahraga rutin membantu tubuh menggunakan hormon insulin dengan lebih efektif, sehingga kadar glukosa dalam darah dapat lebih terkontrol. Olahraga yang disarankan adalah berenang, jogging/jalan cepat, bersepeda atau senam. Hasil optimal akan kita dapat bila olahraga dilakukan secara rutin minimal 30 menit, 4-5 kali setiap minggu.Olahraga rutin dan pola makan sehat juga akan membantu menjaga dan mencapai nilai BMI (Body Mass Index) yang ideal. Perbanyak aktifitas fisik, hindari duduk terlalu lama. Naik turun tangga lebih baik daripada menggunakan lift/escalator dan hindari kendaraan bermotor bila tempat tujuan kita dapat dicapai dengan berjalan kaki.

Kendalikan Stress
Stress yang berlebihan akan menyebabkan peningkatan kadar gula darah akibat hormone kortisol yang meningkat. Pada orang tertentu, stress juga memicu keinginan untuk makan berlebih terutama makanan manis. Olahraga, yoga, atau bermeditasi adalah hal yang dapat kita lakukan untuk mengurangi stress. Demikian juga dengan bermain atau mendengarkan musik, maupun melakukan hobby yang kita sukai.

Cukup Istirahat
Tidur cukup selama 7-9 jam sehari akan menjaga metabolisme tubuh yang baik, menghindari stress dan memiliki energi yang cukup beraktivitas esok harinya.

Cek kadar gula darah secara rutin
Tes gula darah penting dilakukan untuk memonitor kadar gula darah dan deteksi dini diabetes.Pemeriksaan dapat dilakukan minimal setahun sekali bagi mereka yang tidak berisiko tinggi tetapi bagi yang memiliki faktor risiko tinggi terkena diabetes (riwayat keluarga, obesitas, usia >40 tahun, riwayat penyakit jantung/hipertensi/stroke) maka pemeriksaan dapat dilakukan minimal 3 bulan sekali. Hal-hal tersebut di atas bila kita lakukan dengan disiplin, maka akan mengurangi risiko terjadinya diabetes mellitus. Selain untuk pencegahan, pola hidup sehat juga akan membantu para penyandang diabetes (diabetisi) dalam mengendalikan kadar gula darahnya. Bagi yang telah menjadi diabetisi, tidak perlu merasa kuatir berlebih dan berkecil hati. Meskipun DM  merupakan penyakit kronis dengan banyak komplikasi, namun bila kita mampu mengontrol kadar glukosa dalam dalam rentang nilai normal maka komplikasi DM akan dapat kita hindari.

Banyak di antara para diabetisi yang mengeluhkan sulitnya mengendalikan kadar glukosa darahnya. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya pengetahuan kesehatan yang tepat tentang diabetes. Terlebih lagi masih banyak mitos maupun hoax yang beredar di masyarakat yang sebenarnya justru memberikan dampak buruk bagi diabetes, salah satu contohnya adalah keengganan diabetisi minum obat secara teratur karena khawatir ginjalnya akan rusak. Oleh karena itu penyuluhan kesehatan sangat penting untuk membantu mengubah perilaku para diabetisi dalam upaya penanganan diabetes yang baik dan akhirnya mencapai target pengendalian kadar glukosa.

Kabar baik bagi para diabetisi adalah dibukanya klinik diabetes di beberapa rumah sakit. Tujuannya untuk memberikan pendampingan bagi para diabetisi dan keluarganya agar memperoleh informasi yang tepat. Selain itu juga sebagai sarana diskusi dan konsultasi dengan tenaga kesehatan yang telah memperoleh pelatihan khusus mengenai diabetes baik dokter, perawat maupun ahli gizi. Jadi pada saat kontrol rutin, diabetisi bukan hanya memperolah obat dan pemeriksaan laboratorium, tetapi juga dilengkapi dengan edukasi kesehatan. Secara berkala klinik diabetes juga memberi pelatihan untuk memantau glukosa darah secara mandiri, senam kaki, perawatan luka, maupun kelas memasak.

Jadi mencegah terjadinya diabetes maupun mengontrol diabetes untuk mencegah komplikasinya memiliki landasan yang sama, yaitu pola hidup sehat seperti yang diuraikan di atas. Khusus bagi penyandang diabetes, minum obat/injeksi insulin secara teratur dan kontrol rutin juga merupakan kunci keberhasilan mencapai target kadar glukosa darah.

St Helens Clinical Commisioning Group - NHS expands offer of help ...
Diabetes Melitus di Era Pandemi Covid 19
Seluruh dunia, termasuk negara kita Indonesia, sedang dilanda pandemi yang dikenal dengan istilah COVID-19. Pandemi ini disebabkan oleh virus SARS-CoV-2, yaitu satu virus baru yang sebagian besar karakternya masih belum dipahami sehingga penanganan yang tepat untuk mengatasinya juga masih dalam penelitian.COVID-19 merupakan penyakit yang sangat mudah menular dan bisa menyerang hampir seluruh kalangan usia. Data yang ada saat ini menunjukkan bahwa kelompok usia lanjut dan mereka yang memiliki riwayat penyakit kronis berisiko lebih besar untuk terkena COVID-19 dengan komplikasi yang lebih berat. Diabetes Mellitus merupakan salah satu penyakit kronis yang paling sering ditemukan sebagai ko-morbid. Seorang penyandang diabetes bila terpapar virus SARS-CoV-2, maka infeksi COVID-19 yang terjadi biasanya lebih parah seperti yang ditunjukkan data yang didapatkan di Cina, Italia, dan Filipina.

Cegah Komplikasi Diabetes, Kontrol Gula Darah dengan Olahraga dan ...
Menanggapi fakta tersebut, maka Perkumpulan Endikrinologi Indonesia memberikan rekomendasi bagi para diabetisi dalam mencegah COVID-19:
1.       Biasakan sering mencuci tangan dan hindari menyentuh wajah. Cuci tangan adalah tindakan sederhana namun sangat penting dalam mencegah penularan infeksi.
2.       Tinggal di rumah dan menjaga jarak dengan orang lain.
3.       Menggunakan masker bila terpaksa keluar rumah. Penggunaan masker kain sebaiknya tidak lebih dari 4 jam, dan setelahnya bias dicuci dengan air sabun.
4.       Teruskan konsumsi obat oral maupun injeksi. Pastikan ketersediaan obat di rumah.
5.       Tetap jaga pola makan sehat dan seimbang, serta cukup olahraga.
6.       Cek gula darah secara teratur, terutama bila merasa tidak enak badan.
7.       Hubungi dokter anda untuk instruksi selanjutnya jika ada masalah kesehatan.
Oleh karena gula darah yang tidak terkontrol merupakan risiko bagi diabetisi untuk mengalami infeksi yang berat, maka kontrol yang ketat harus selalu diterapkan. Sangat disarankan untuk memiliki alat pemeriksa glukosa darah (glucometer) di rumah sehingga diabetisi dapat melakukan pemeriksaan secara mandiri.

Bagi diabetisi yang mengalami gejala COVID_19 seperti demam, batuk, sesak nafas, nyeri sendi atau tubuh, dan/atau diare, hubungi segera layanan kesehatan untuk saran/penanganan selanjutnya. Sangat penting bagi kita untuk selalu mendapatkan informasi yang tepat mengenai segala sesuatu. Hendaknya kita tidak segan atau malu untuk bertanya jika memerlukan informasi. Selalu saring dan konfirmasi terlebih dahulu apakah informasi yang kita dapat sudah benar.



Referensi:
1.       PB PERKENI. Pernyataan Resmi dan Rekomendasi Penanganan Diabetes Mellitus di era Pandemi COVID-19 Nomor: 239/PB.PERKENI/IV/2020