Cara Aktivis Melawan Sistem Keamanan Hong Kong



Sejak pertama kali Rencana Undang-Undang (RUU) kerjasama ekstradisi kriminal antara Hong Kong, Taiwan dan Cina digelontorkan Chief Executive Hong Kong, Carrie Lam, kerusuhan terbesar yang pernah terjadi dikota Bisnis tersebut menggapai klimaksnya Rabu 12 Juni 2019.

Walau terus berlanjut hingga 9 Oktober 2019, dimana Kepolisian Hong Kong mengeluarkan aturan baru tentang pelarangan penggunaan masker yang menutupi wajah demonstran, kerusuhan menjalar ketempat bisnis yang berafiliasi dengan Pemerintah Cina (Cina Daratan).

Ketatnya aturan-aturan tersebut tidak menyurutkan semangat demonstran menuntut kemerdekaan. Ada beberapa taktik yang cukup unik dilakukan aktivis demonstran Hong Kong menghadapi pihak keamanan, baik secara online maupun offline. Berikut ini kami rangkum strategi jitu mereka:

1. Perlindungan CCTV AI
Pihak keamanan Hong Kong sejak lama menerapkan sistem keamanan kamera CCTV tercanggih yang dapat melacak secara otomatis profil dan identitas seseorang yang tertangkap kamera CCTV. Menggunakan Artificial Inteligence (AI) yang dibuat beberapa perusahaan teknologi asal Cina, pihak keamanan dapat melacak identitas demonstran langsung kealamat rumahnya. Bahkan gambar bentuk dan pola kuping telinga bisa dijadikan bukti untuk mencocokkan identitas mereka.
Tidak butuh teknologi keren untuk menangkal hal tersebut, para demonstran cukup menggunakan payung bersama-sama untuk menutupi identitas mereka, lalu melakukan vandalisasi terhadap kamera CCTV tersebut. Baik dengan menempelkan stiker dilensa kamera, menyemprotkan cat, hingga pengrusakan kamera.
Jika kamera susah dijangkau, demonstran cukup menggunakan pena laser berkekuatan tinggi untuk membakar dan merusak sensor CCTV. Pena laser juga berguna dalam hal mengalihkan pandangan para petugas keamanan. "Kamu mungkin berpikir ketika demo tidak melakukan kesalahan sedikitpun, tapi nanti mungkin kamu akan dituntut berdasarkan bukti rekaman CCTV, bukti geolokasi ponsel pintar, dan lain-lain" ujar Lokman Tsui, seorang asisten profesor di Universitas Negeri Hong Kong dikutip Wall Street Journal.

2. Perlindungan Online
Sebelum kerusuhan anarkis terjadi, para demonstran melakukan kordinasi secara daring melalui beberapa jalur. Untuk berbagi file, foto, video, pamflet digital kepada aktivis lain yang berada disekitar lokasi, mereka menggunakan aplikasi AirDrop. "Mengirim dokumen melalui AirDrop tidak bisa terlacak, kamu tidak tahu siapa yang mengirim dan siapa yang menerima" jelas Desmon Fung, salah satu demonstran aktif.
Sedangkan otak dari kordinasi mereka terletak pada aplikasi berbagi pesan TELEGRAM yang dikenal terenkripsi sangat baik, lebih baik daripada aplikasi WHATSAPP. Kekurangan Whatsapp tahun semakin bertambah ketika menyebar isyu dikalangan warga Amerika, jika server Whatsapp sekarang dapat diakses oleh pihak intelijen Amerika Serikat.
Selain jalur akses informasi, para penggunanya yang masuk didalam grup Telegram juga dipilah dengan baik. Ada sebuah aturan berjudul "Menangkap Hantu" yang diterapkan anggota dan admin grup Telegram pendemo, aturan tersebut mengekplorasi siapa saja pihak yang terendus bekerjasama dengan pihak keamanan Hong Kong. Terkadang teknik yang mereka terapkan untuk menangkap "Hantu" sangat radikal dan rahasia.

3. Perlindungan Offline
Kertas aluminium yang biasanya digunakan untuk memasak diperalatan microwave, juga berguna untuk melindungi pencurian identitas. Kartu identitas warga Hong Kong (KTP) tertanam teknologi Radio Frequency Identification atau RFID. Dimana KTP tersebut diidentifikasi pemiliknya hanya dengan gelombang radio dengan frequensi dan kekuatan tertentu dari jarak tertentu.
Demonstran dapat mengakali sistem tersebut dengan membungkus KTP mereka menggunakan kertas aluminium dengan baik dan menghalang frekuensi radio membaca identitas mereka. Selain KTP, kartu kredit, kartu subway, dan lain-lain juga memiliki teknologi yang sama.

4. Perlindungan Transportasi
Hong Kong memiliki jalur transportasi masal berupa kereta api bawah tanah yang menjadi moda angkutan utama para demonstran hilir mudik. Sistem pembelian tiket memungkinan rekaman pembeli tiket diteruskan ke pihak keamanan, baik berupa rekaman kamera mesin tiket, maupun rekaman jalur kemana saja para demonstran pergi, termasuk tiket menuju kerumah masing-masing.
Para aktivis mengakali sistem tersebut dengan membeli tiket secara tunai, dimesin cetak tiket, dan membeli hanya satu jalur saja, tidak membeli tiket paketan pulang pergi atau tiket yang mengarah langsung ke kediaman mereka. Metode ini dapat mempersulit pelacakan gerakan para demonstran.

5. Perlindungan Data Ketika Ditangkap
Dalam keadaan terburuk, ketika para demonstran tertangkap pihak keamanan. Melindungi ponsel pintar mereka dari akses pihak kepolisian Hong Kong sangatlah penting. Pengunci wajah maupun sidik jari dianggap sangat berbahaya, karena dapat dengan mudah dibuka oleh pihak keamanan dengan meminjam polanya dari demonstran.
Menggunakan PIN maupun password pengunci layar ponsel pintar adalah wajib bagi para demonstran, ia mempersulit pihak keamanan karena dalam undang-undang Hong Kong, para pendemo bisa merahasiakan apa saja yang ia ketahui termasuk PIN atau password layar ponsel, jika tertangkap pihak keamanan dengan dalih kriminalisasi.

6. Perlindungan Fisik
Aksi Demonstrasi seringkali berujung anarkis, dimana pihak keamanan menerapkan standar sesuai dengan kondisi keamanan. Pembubaran demonstrasi menggunakan pentungan kayu maupun plastik, semprotan merica, gas air mata, hingga semprotan meriam air, dapat melukai para demonstran cukup parah. Beberapa petugas medis kerap menemukan patahnya tulang wajah, tulang lengan, kaki, hingga tengkorak, menjadi alasan para demonstran melindungi diri dengan peralatan komersial yang mudah didapat.
Helm keamanan yang digunakan para pekerja bangunan menjadi standar terendah melindungi bagian kepala para demonstran. Kacamata Google atau kacamata renang dan masker debu melindungi diri dari serangan gas air mata dan semprotan cairan merica. Sarung Tangan low impact atau standar pengelasan juga digunakan untuk melindungi diri dari benturan. Serta pelindung siku dan lutut yang terbuat dari peralatan olahraga outdoor.

Sebagian besar demonstran berusia remaja dan melek teknologi. Kekacauan undang-undang subversif yang terjadi dinegara yang dahulunya tumbuh subur investasi asing, merubah wajah Hong Kong menjadi suram dan warganya merasa mulai dijajah kemerdekaannya. Tidak heran jika salah satu tuntutan demonstran adalah segera diselenggarakan pemilihan umum secara langsung, dimana pemimpin-pemimpin Hong Kong harus dipilih oleh warganya sendiri.

Hong Kong menjadi wilayah isitmewa otonom negara Republik Rakyat Cina sejak 1 juli 1997 saat peralihan kekuasaan dari Pemerintah Inggris ke RRC. (SS)